fbpx
asset-1

2 Contoh KYC dalam Industri Perbankan dan Keuangan

contoh kyc

Know Your Customer atau KYC adalah prinsip yang wajib dilakukan dalam registrasi nasabah. Pasalnya, KYC digunakan sebagai langkah untuk mengantisipasi tindak pidana pencucian uang dan korupsi yang kerap terjadi di lembaga keuangan. Inilah sebabnya Anda harus belajar dari contoh KYC yang berhasil diterapkan di industri keuangan dan perbankan.

Lantas, apa saja contoh KYC yang bisa menjadi panduan dalam menerapkan prinsip ini? Simak artikel sampai selesai untuk menemukan jawabannya!

Pengertian KYC

penerapan prinsip KYC

Sebelum mengetahui contoh KYC, lebih baik Anda memahami dahulu pengertian prinsip ini. Know Your Customer atau KYC adalah prinsip yang bertujuan untuk mengenal identitas dan aktivitas keuangan calon nasabah nasabah dalam lembaga keuangan bank maupun non-bank.

Dalam proses ini, lembaga keuangan tidak hanya mengetahui nama dan nomor identitas saja. Mereka harus mengetahui informasi tentang jenis pekerjaan, riwayat transaksi keuangan, dan tujuan dari aktivitas keuangan yang dilakukan oleh calon nasabah.

Di Indonesia, prinsip KYC lebih dahulu dilakukan oleh lembaga keuangan perbankan saja. Bank Indonesia sebagai regulator perbankan mewajibkan penerapan KYC dalam peraturannya, yaitu dasar hukum Peraturan Bank Indonesia No. 3/10/PBI/2001 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles). 

Kini, sesuai dasar hukum KYC mewajibkan penerapan prinsip ini di seluruh lembaga keuangan, termasuk non-perbankan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut mengawasi prinsip KYC dalam lembaga keuangan non-bank seperti perusahaan asuransi, investasi, lembaga pembiayaan, dan pinjaman online.

Penerapan KYC di masing-masing lembaga keuangan diawasi oleh unit kerja khusus sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 30/PMK.010/2010.

Baca juga: 6 Cara Mencegah Fraud di Perusahaan

Bentuk Verifikasi Identitas Nasabah

Terdapat 2 jenis cara verifikasi identitas nasabah bagi lembaga keuangan berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 14/12/PBI/2012, yaitu

1. Customer Due Diligence (CDD)

CDD) adalah proses awal yang dilakukan oleh institusi keuangan untuk mengumpulkan informasi dasar tentang nasabah mereka. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan memahami identitas nasabah serta sifat dan tujuan transaksi mereka.

CDD melibatkan verifikasi identitas nasabah dan pemahaman tentang hubungan bisnis yang diharapkan dengan nasabah tersebut

2. Enhanced Due Diligence (EDD)

Cara identifikasi EDD ini lebih detail ketimbang CDD. Tingkat pemeriksaan yang lebih mendalam akan diterapkan pada nasabah yang dianggap memiliki risiko yang lebih tinggi.

Ini dapat mencakup nasabah yang terlibat dalam bisnis atau wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap pencucian uang, pendanaan terorisme, atau kejahatan keuangan lainnya.

Baca juga: Memahami Apa Itu Risiko Kredit dalam Bisnis Properti

Tujuan Penerapan Prinsip KYC

Menerapkan prinsip KYC (Know Your Customer) di lembaga keuangan berlandaskan pada lima tujuan di bawah ini, yaitu di antaranya:

1. Memahami Nasabah Lebih Dalam

Lembaga keuangan berhak meminta nasabah untuk menyediakan dokumen identitas dan informasi terkait seperti riwayat kredit, sumber pendapatan, dan tujuan transaksi dalam proses KYC.

Seluruh informasi ini bermanfaat bagi lembaga keuangan dalam memahami profil risiko nasabah dan mengambil tindakan yang sesuai untuk melindungi kepentingan nasabah dan mencegah risiko kerugian.

2. Memberi Kemudahan Regulator dalam Memantau Aktivitas Keuangan

KYC juga membawa manfaat bagi Bank Indonesia dan OJK. Kedua regulator tersebut bisa memantau kegiatan transaksi nasabah lebih mudah dan efektif berkat KYC.

Informasi yang diperoleh dari KYC dapat digunakan sebagai alat pemantauan dan pengawasan terhadap aktivitas keuangan yang mencurigakan atau potensial melanggar peraturan.

3. Mencegah Tindakan Pencucian Uang dan Korupsi

Tujuan utama KYC adalah mencegah tindak pidana terkait uang, terutama pencucian uang (money laundering) dan korupsi. Dalam proses KYC, lembaga keuangan bisa mengidentifikasi dan mencegah calon nasabah yang mencoba menggunakan sistem keuangan untuk melakukan aktivitas ilegal atau mencurigakan.

Selain itu, informasi yang tercatat dari KYC dapat digunakan sebagai bukti dalam penyelidikan, pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

4. Sebagai Sistem Pengawasan Internal bagi Lembaga Keuangan

KYC membantu lembaga keuangan dalam melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap seluruh aktivitas keuangan nasabah. Informasi yang tercatat dari KYC bisa dimanfaatkan untuk memeriksa kecocokan antara aktivitas keuangan nasabah dan profil risiko yang telah ditetapkan.

Apabila ada kecurigaan terhadap aktivitas keuangan tertentu, lembaga keuangan bisa melakukan investigasi lebih lanjut atau memberikan peringatan kepada nasabah.

5. Memperlancar Proses Investigasi Jika Terjadi Kasus Pencucian Uang

KYC merupakan sumber informasi penting yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan investigasi apabila terjadi kasus pencucian uang. Lembaga keuangan bisa membantu penegak hukum dalam melakukan penyelidikan dan penindakan terhadap pelaku tindak kejahatan keuangan.

Efektivitas pencegahan dan penanganan tindak kejahatan keuangan di Indonesia pun berjalan efektif dengan informasi dari KYC.

Baca juga: Apa Itu Credit Score dalam Bisnis Pembiayaan?

Contoh Penerapan KYC dalam Industri Keuangan dan Perbankan

Seperti apa penerapan KYC dalam industri keuangan dan perbankan di Indonesia? Mari kita simak dua contoh di bawah ini.

1. Penerapan Sistem KYC Konvensional

Sejak pertama kali diperkenalkan di Indonesia, industri perbankan menggunakan sistem KYC konvensional. Sistem ini mengharuskan calon nasabah datang langsung ke kantor lembaga keuangan dan mengumpulkan dokumen fisik (hard copy) sebagai syarat untuk verifikasi identitas. Calon nasabah juga diminta untuk mengisi formulir yang disediakan.

Melihat proses di atas, KYC konvensional memakan waktu yang cukup lama sehingga dinilai kurang efektif. Waktu verifikasi dan pembuatan akun pun memerlukan proses yang panjang sehingga dinilai menyulitkan sebagian orang, apalagi jika nasabah yang sama ingin membuat akun keuangan yang baru.

2. Penerapan Sistem KYC Elektronik (e-KYC)

KYC elektronik atau yang populer dengan istilah e-KYC merupakan proses KYC yang memanfaatkan teknologi. Sistem e-KYC yang digunakan dalam proses identifikasi dan verifikasi juga memudahkan pekerjaan lembaga keuangan.

Lembaga keuangan hanya perlu menggunakan aplikasi dan meminta calon nasabah untuk memasukkan informasi identitas diri serta melampirkan foto identitas. Menariknya, penandatanganan formulir juga bisa dilakukan secara digital sehingga calon nasabah tidak perlu datang ke kantor cabang.

Kini, e-KYC makin dipilih karena kemudahan yang ditawarkannya. Nasabah pun cenderung memilih lembaga keuangan yang menerapkan e-KYC karena bisa dilakukan secara daring tanpa terhalang ruang dan waktu. Oleh karena itu, tidak ada salahnya menerapkan contoh KYC ini di lembaga keuangan atau perbankan yang Anda jalani.

Menghadirkan layanan e-KYC di lembaga keuangan Anda bisa dilakukan menggunakan eendigo User Validation. Proses e-KYC pun dilakukan lebih komprehensif karena Anda bisa mengakses data pemerintah seperti SLIK, Samsat, dan Dukcapil untuk menguji kelayakan calon nasabah. 

Dirancang dengan algoritma machine learning, eendigo User Validation bisa menyesuaikan metode autentikasi sesuai tingkat risiko calon nasabah. Ingin mengetahui lebih lanjut tentang layanan ini? Hubungi kami segera. Anda juga bisa klik di sini untuk langsung mendapatkan free trial-nya. Tingkatkan kualitas KYC Anda hanya dengan layanan unggulan dari eendigo!